Latest Entries »

TUGAS 2-8

TUGAS 2

PENANGANAN QUALITY CONTROL PERUSAHAAN

Untuk mendapatkan hasil CPO yang berkualitas yaitu rendemen 24-26 %, asam lemak bebas / FFA (free faty acid) yang rendah 2-3%, dan tingkat kejernihan yang tinggi, yang perlu dilakukan dalam proses pemanenan dan pengangkutan buah antara lain :

1. Buah mentah tidak boleh di potong
2. Brondolan harus dikutip
3. Buah masak tinggal di pokok tidak boleh ada (0 %)
4. Antisipasi Brondolan / buah di curi
5. Administrasi yang harus akurat
6. Tidak boleh ada Buah mentah diperam masuk loading rem
7. Buah masak tinggal di piringan tidak ada
8. Gagang panjang harus di potong
9. Antisipasi adanya Buah matahari
10. Janjangan / buah busuk Terikutnya kerikil / sampah 0%

Karena jika hal tersebut tidak dilakukan maka dapat terjadi :
 Kehilangan produksi minyak (MKS/CPO)
 Menganggu kelestarian produksi
 Kerugian di pabrik/PKS (Efisiensi dan kerusakan beberapa stasiun)
 Tanaman/pokok menderita karena dilukai (“stress”)

Hasil pengolahan harus bebas dari segala pencemaran secara umum produk baik yang bermutu harus di perhatikan: bahan baku, personalia, peralatan sanitasi. Pengolagan dan pengemasan.
Pengolahan dan pengemasan adalah faktor yang sangat menentukan untuk menghasilkan produk yang bermutu baik, oleh karena itu dalam memproduksi harus memperhatikan dan menerapkan hal-hal tersebut.

TUGAS 3

LIMBAH DAN PENANGANAN LIMBAH KELAPA SAWIT TEMPAT PI

Limbah perusahan kelapa sawit yang dihasilkan oleh pabrik pengolah buah kelapa sawit berupa
• Jangkos (janjang kosong) itu janjang hasil perontokan di mesin trhaesser khusus untuk merontokan brondolan buah
• Jangkos tersebut digunakan seagai pupuk organik yang disebarkan ke setiap divisi, di gunakan untuk memupuk tanamn kelapa sawit TBM. Digunakan juga untuk memperbaiki kesuburan dan stuktur tanah khususnya tanah pasir yang miskin kandungan bahan hara.
• Jangkos juga di olah sebagai kompos, dalam pembuatan kompos harus melalui beberapa tahapan lanjutan sebelum di aplikasikan ke tanaman.seperti proses pencacahan,fermentasi, dan pembalikan.
• Selain limbah padat juga di hasilkan limbah cair yang juga dapat di manfaatkan sebagai pupuk organik cair.
• Penanganan limbah kelapa sawit,khususnya untuk limbah sawit biasanya di buatkan tempat-tempat khusus sebagai penampung limbah tersebut sebelum disalurkan melalui pipa-pipa khusus ke kebun, sebagai pupuk organik cair.
• Limbah padat selain janjang kosong adalah Fiber dan cangkang umumnya digunakan sebagai bahan bakar boiler. Uap dari boiler dimanfaatkan untuk menghasilkan energi listrik dan untuk merebus TBS sebelum diolah di dalam pabrik.

TUGAS 4

HRD DAN STANDAR PEGAWAI PERUSAHAAN

Seluruh PT estate-estate di seluruh wilayah 1-9 (BGA Group) memiliki aturan standart kepegawaian yang sama sesuai dengan peraturan daerah di provinsi mana wilayah itu ada,
Standar kepegaiwean BGA di bagi menjadi dua golongan yaitu staff dan karyawan
Untuk standar kepegwaian setingkat karyawan di bagi menjadi 3 golongan karyawan, yaitu :
• Karyawan KHL
• Karyawan KHL
• Karyawan Bulanan

Ketiga golongan karyawan ini memiliki hak-hak tersendiri,yaitu:
Karyawan KHL
 Tidak datang tidak dibayar
 Pengobatan yang di tanggung hanya kecelakaan kerja
 Tidak mempunyai hak cuti
 Secara UU tidak mendapat THR (tunjangn hari raya)
 Tidak dapat hak catu beras
 Tidak memiliki hak mendapat fasilitas tempat tinggal dari perusahaan
 Mendapat cuti 12 hri efektif
 Mendapat hak THR
 Mendapat jatah beras 0,5/hari
 Mendapat JAMSOSTEK
 Mendapat fasilitas tempat tinggal
 Hari minggu di bayar
 Mendapat hak jaminan kesehatan
 Unuk seorang pekerja yang sudah berkeluarga dan istrinya tidak bekerja,istr mendapat jatah beras 0,3 kg/hari dan anak @ 0,25/kg,tanggungan anak sampai anak ke-2
Karyawan Bulanan :
Hak-haknya hampir sama dengan KHT,yang membedakan antara lain:
 Besarnya gaji tergantung grade/golongannya.
 Catu beras terhitung tiap bulan. Yaitu 15 kg/bulan

TUGAS 5

PRODUK HASIL OLAH DAN SASARAN PEMAKAIAN LOKAL ATAU EKSPOR/IMPOR PERUSAHAAN

Hasil olahan / hasil produk olahan yang di hasilkan dari CPO atau kernel antara lain:
 Minyak goreng sawit
 Margarine
 Alat kosmetika seperti: sabun, hand body lation,
 Biodiesel
 Minyak sawit digunakan sebagai bahan baku minyak makan, margarin, sabun, kosmetika, industri baja, kawat, radio, kulit dan industri farmasi. Minyak sawit dapat digunakan untuk begitu beragam peruntukannya karena keuunggulan sifat yang dimilikinya yaitu tahan oksidasi dengan tekanan tinggi, mampu melarutkan bahan kimia yang tidak larut oleh bahan pelarut lainnya, mempunyai daya melapis yang tinggi dan tidak menimbulkan iritasi pada tubuh dalam bidang kosmetik.[1]
 Bagian yang paling populer untuk diolah dari kelapa sawit adalah buah. Bagian daging buah menghasilkan minyak kelapa sawit mentah yang diolah menjadi bahan baku minyak goreng dan berbagai jenis turunannya. Kelebihan minyak nabati dari sawit adalah harga yang murah, rendah kolesterol, dan memiliki kandungan karoten tinggi. Minyak sawit juga diolah menjadi bahan baku margarin.
 Minyak inti menjadi bahan baku minyak alkohol dan industri kosmetika. Bunga dan buahnya berupa tandan, bercabang banyak. Buahnya kecil, bila masak berwarna merah kehitaman. Daging buahnya padat. Daging dan kulit buahnya mengandung minyak. Minyaknya itu digunakan sebagai bahan minyak goreng, sabun, dan lilin. Ampasnya dimanfaatkan untuk makanan ternak. Ampas yang disebut bungkil itu digunakan sebagai salah satu bahan pembuatan makanan ayam. Tempurungnya digunakan sebagai bahan bakar dan arang.
 Buah diproses dengan membuat lunak bagian daging buah dengan temperatur 90°C. Daging yang telah melunak dipaksa untuk berpisah dengan bagian inti dan cangkang dengan pressing pada mesin silinder berlubang. Daging inti dan cangkang dipisahkan dengan pemanasan dan teknik pressing. Setelah itu dialirkan ke dalam lumpur sehingga sisa cangkang akan turun ke bagian bawah lumpur.
 Sisa pengolahan buah sawit sangat potensial menjadi bahan campuran makanan ternak dan difermentasikan menjadi kompos.

TUGAS 6

SISTEM PEMASARAN PRODUK ATAU JASA PERUSAHAAN TEMPAT PI

Setiap produk yang telah mengalami atau melewati proses produksi kemudian dipasarkan.
Sistem pemasaran yaitu melalui kerja sama antar perusahaan-perusahaan yang telah membutuhkan bahan baku pembuatan dari minyak kelapa sawit. Hasil olahan kelapa sawit yang berupa CPO (Curt Palm Oil) yaitu minyak mentah kelapa sawit,pemasarannya 60 % di eksport ke luar negeri,dengan sasaran pasar dunia antara lain: USA (amerika serikat),jepang,Australia, dan negara-negara eropa dan asia lainnya
Untuk hasil olahan berupa kernel atau inti biji sawit pemasarannya hampir 100% untuk ekspor dengan sasaran pasar USA,Belanda,Jerman, Jepang dan negara-negara Eropa PKO (palm kernel oil) yaitu minyak sawit yang diambil dari inti biji sawit.
Mengapa kernel hampir 100% di ekspor ke luar negeri karena yang pertama memang adanya permintaan dari pasar luar negeri sebab kualitas minyak yang dihasilkan dari kernel merupakan yang terbaik. Yang memiliki kandungan FFA rendah dan tingkat kejernihan yang tertinggi.selain itu harga dari kernel tinggi.

TUGAS 7

POLA KERJA SAMA ANAK BINAAN DARI PERUSAHAAN PT WNL

Adalah perusahaan yang selalu menerima anak-anak didik dan binaan PKL dari tahap tahun ke tahun.selain itu kegiatan-kegiatan yang dikembangkan di perusahaan-perusahaan di BGA Group, antara lain :

1.kerjasama dengan petani plasma, Pembentukan kelompok tani dilakukan sejak awal dengan memperhatikan SIA (Suami/Isteri/Anak), Usia, Tingkat Pendidikan dll.
2.Perlua adannya regrouping kelompok kerja yang berjumlah antara 10-15 orang menjadi 20-30 orang per kelompok.
3.Pelatihan dinamika kelompok bagi kelompok tani dilakukan selambatnya 6 (enam) bulan menjelang waktu penyerahan hasil.
4.Pertemuan kelompok tani/kerja dilakukan secara rutin (semakin sering lebih baik) untuk membahas kegiatan yang dilakukan dan menyusun rencana kerja waktu yang akan datang.
5.Manajemen pengelolaan kebun dilakukan secara bersama oleh kelompok dalam 1 (satu) hamparan.
6.Untuk mengorganisir kelompok dalam 1 (satu) divisi perlu dibentuk organisasi yang mengatur dan mengkoordinir kerjasama kelompok.
7.Koordinasi antar Unit Usaha Otonom (UUO)/TPK dilakukan oleh KUD melalui forum pertemuan koordinasi secara berkala minimal sekali dalam satu bulan.
8.Pembenahan administrasi keanggotaan dan organisasi kepengurusan KUD.
9.Pelatihan bagi pengurus KUD dan UUO/TPK tentang pengelolaan kebun kelapa sawit khususnya menyangkut pengumpulan dan pengangkutan TBS serta kebersamaan dalam kelompok.
10.Pembagian kerjasama antara KUD, UUO/TPK dan kelompok tentang kegiatan panen, angkut, rawat.
11.Pengumpulan dan pengangkutan TBS sejak penyerahan hasil dikoordinasikan oleh KUD yang pelaksanaannya di setiap divisi didelegasikan kepada UUO/TPK dengan prinsip pembagian keuntungan sesuai kesepakatan.
12.Pelatihan peningkatan kapasitas KUD dalam perhitungan produksi bulanan untuk menangkal penjualan TBS ke luar.
13.Pendesainan penetapan kavling dilakukan dengan memperhatikan jarak lokasi pemukiman dengan lokasi kebun.
14.Penyiapan system ampraag.
15.Diberlakukannya sanksi terhadap pelanggaran aturan kesepakatan kelompok
TUGAS 8

POLA KEPEDULIAN KE LINGKUNGAN PERUSAHAAN (BEASISWA,REKRUIT,TENAGA KERJA,SEKITAR, DANA SOSIAL,PENGADILAN MSYARAKAT)

Pola rekrutmen yang dilakukan di BGA Group dilakukan di sebuah departemen pendidikan di bawah naungan POD (People & Organitation Development Departement) di bawah kepemimpinan Human Pital Group Director Bapak Basuki Suseno.
Jenis-jenis pelatihan yang dilakukan di PNLC antara lain:
 PAW, (Pelatihan untuk calon karyawan tetap)
 PAJ, (pelatihan untuk calon mandor kerani ,mantri ,accountin, admin dsb). Terdiri dari :
PAJA, yaitu calon supervisi agronomi
PAJE, untuk operator Mill (pabrik)
 PAM, pelatihan untuk calon asisten / kasie, terdiri dari:
PAMA, yaitu calon asisten kebun
PAMKA, yaitu calon kasie, atau kepala administrasi estate
PAME, yaitu calon asisten engeneering

selain itu ada juga pelatihan untuk promosi menjadi staff, dari karyawan yang berprestasi.
Misal dari mandor 1,mantri menjadi calon asisten kebun atau occounting dan admin tanaman menjadi calon kasie.melalui program PAJP (pelatihan ahli juana promosi) sebelum mengikuti PAMA atau PAME.

Selain PNLC ada juga departement- departement suport lainnya antara lain:
 SDA, (Skill Deprtement Activity)
 CE, (Civil Engeenering), departement yang mengurus pembangunan infrastruktur
 GIS, (Geographic Informasi Sytem). Yaitu departemen yang mengurus masalah pemetaan,pengukuran dan urusan-urusan dalam pengukuran lahan yang akan dibuka
 PAD, (Public Affair Departement)
 CSR, (Corporate Sosial Riserbility)
 Riset Departement, laboratorium untuk penelitian tentang budidaya kelapa sawit

TUGAS 1

saya melaksanakanPraktek Industri di perusahaan perkebunan kelapa sawit Bangun Kolling Estate,PT Windu Nabatindo Abadi,Bumitama Gunajaya Agro

sedikit ilmu saya tentang komoditas kelapa sawit

Iklim
Lama penyinaran matahari rata-rata 5-7 jam/hari. Curah hujan tahunan 1.500-4.000 mm. Temperatur optimal 24-280C. Ketinggian tempat yang ideal antara 1-500 m dpl. Kecepatan angin 5-6 km/jam untuk membantu proses penyerbukan.
Media Tanam
Tanah yang baik mengandung banyak lempung, beraerasi baik dan subur. Berdrainase baik, permukaan air tanah cukup dalam, solum cukup dalam (80 cm), pH tanah 4-6, dan tanah tidak berbatu. Tanah Latosol, Ultisol dan Aluvial, tanah gambut saprik, dataran pantai dan muara sungai dapat dijadikan perkebunan kelapa sawit.

PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
Pembibitan
Penyemaian
Kecambah dimasukkan polibag 12×23 atau 15×23 cm berisi 1,5-2,0 kg tanah lapisan atas yang telah diayak. Kecambah ditanam sedalam 2 cm. Tanah di polibag harus selalu lembab. Simpan polibag di bedengan dengan diameter 120 cm. Setelah berumur 3-4 bulan dan berdaun 4-5 helai bibit dipindahtanamkan.
Bibit dari dederan dipindahkan ke dalam polibag 40×50 cm setebal 0,11 mm yang berisi 15-30 kg tanah lapisan atas yang diayak. Sebelum bibit ditanam, siram tanah dengan POC NASA 5 ml atau 0,5 tutup per liter air. Polibag diatur dalam posisi segitiga sama sisi dengan jarak 90×90 cm.Kelapa sawit (Elaeis) adalah tumbuhan industri penting penghasil minyak masak, minyak industri, maupun bahan bakar (biodiesel). Perkebunannya menghasilkan keuntungan besar sehingga banyak hutan dan perkebunan lama dikonversi menjadi perkebunan kelapa sawit. Indonesia adalah penghasil minyak kelapa sawit kedua dunia setelah Malaysia. Di Indonesia penyebarannya di daerah Aceh, pantai timur Sumatra, Jawa, dan Sulawesi.

pekerjaan pertama yang dilakukan dalam perkebunan kelapa sawit adalah land clearing / pembukaan lahan.bahasan saya tentang land clearing

LAND CLEARING

This slideshow requires JavaScript.

Faktor lain yang menentukan  kuantitas  produksi sesudah jenis tanah dan kualitas bibit ialah kultur teknis pembukaan lahan.  Kualitas dan ketepatan persiapan lahan akan mempengaruhi beberapa hal, antara lain :

a. Biaya pembukaan atau persiapan lahan itu sendiri.

b. Biaya, kemudahan dan mutu penanaman kelapa sawit.

c. Masa Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) atau Immature.

d. Produksi TBS, minyak CPO dan  inti sawit yang akan diperoleh pada tahun pertama panen dan tahun-tahun berikutnya.

e. Biaya pemeliharaan dan panen pada waktu TBM dan TM.

Secara umum bagan alur kegiatan pembukaan lahan untuk penanaman kelapa sawit, meliputi :

Persiapan pembukaan lahan sebaiknya dikerjakan minimal 4 (empat) bulan sebelum pekerjaan tersebut dimulai, sehingga tersedia waktu 16 bulan untuk menyelesaikan semua  program tersebut.  Semua tahapan pekerjaan harus dibuat activity plan dalam bentuk time schedule dan disusun secara sistematis sehingga antara pekerjaan satu dengan lainnya tidak saling menghambat.

Didalam penyusunan “time schedule” tersebut faktor yang harus diperhitungkan ialah : iklim, tenaga kerja, alat dan bahan.

Contoh jadwal kerja kegiatan operasional pembukaan lahan untuk luasan 2.000 ha            (musim kemarau pada bulan Maret, musim hujan bulan September–Desember), maka

Pekerjaan memerun atau merencek adalah mencincang atau memotong kayu bulat bekas tebangan berdiameter > 10 cm dan panjangnya > 4 m menjadi kayu-kayu yang panjangnya < 4 m sehingga mudah dikumpulkan dan dirapihkan .  Selain itu, pada saat yang bersamaan apabila ditemukan pohon mati yang masih tegak berdiri harus ditumbang.

a.2.    Merumpuk atau pembersihan jalur tanam dan jalan pikul

Hasil cincangan ditempatkan pada lahan diantara jalur tanaman,  dengan jarak 1 m di kiri-kanan pancang. Disamping itu, pada jalur jalan pikul harus dibersihkan dari kayu-kayu dengan lebar 1,5 m. Dengan demikian diperoleh 3,5 m jalur yang bersih dari potongan kayu, yaitu jalur tanam dan jalan pikul.

Untuk memudahkan pemeriksaan blok/lapangan, merawat dan melangsir pupuk maka perlu dibuatkan jalan kontrol selebar 1,5 m melintangi di tengah-tengah blok arah Barat-Timur berjarak 150 m dari jalan collection road. Jalan kontrol ini harus dibersihkan dari segala potongan kayu termasuk tunggul kayu dipotong tandas.

Pembersihan jalur tanaman manual dilakukan dengan tenaga manusia dan peralatan sederhana seperti parang, kapak dan gergaji.

  1. B. MEKANIS

Pembersihan jalur tanam secara mekanis (stacking) dilakukan dengan menggunakan berat seperti Bulldozer dan atau Excavator. Bisa juga menggunakan tree & brush chipper, mesin pencacah kayu menjadi serpihan.  Ketentuan dalam perun mekanis adalah sebagai berikut :

a. Kayu-kayu yang sudah dicincang digusur dan dikumpulkan pada tempat yang sudah ditentukan (jalur rumpukan).

b.        Jalur rumpukan harus berada di jalur gawangan mati. Lebar rumpukan kayu maksimum dibuat 4,0 m dan tinggi rumpukan yang diperbolehkan 2,0 m.

c.         Arah rumpukan membujur dari Utara ke Selatan.  Rumpukan pertama dimulai dari sebelah Barat antara baris tanaman 1 dan 2 (pada jarak ± 6 m dari tepi production road) atau sesuai pancang rumpukan yang telah dipasang.

d.        Jarak antara rumpukan yang satu dengan jalur rumpukan lain adalah  2 – 4 baris tanaman tergantung volume kayu-kayu hasil tumbangan.

e.        Untuk areal rendahan, dimana areal tersebut agak basah maka  pelaksanaan land clearing dapat dikerjakan secara manual dan atau menggunakan alat excavator dengan jarak antara rumpukan yang satu dengan  rumpukan  lain adalah  2 (dua)  baris tanaman atau dengan jarak  ±16 m.

f.         Jalur rumpukan kayu yang panjangnya ± 300 m harus diputus pada setiap jarak 50 m, sehingga ada jalan untuk orang melintas antar jalur tanaman.

g.        Titik tanam yang akan di pancang harus bebas dari tunggul kayu dengan jarak minimum 1,5 m dari kiri dan kanan jalur tanaman.

Kelemahan dan kelebihan antara perun manual dengan mekanis antara lain:

Pembersihan jalur tanamManual Pembersihan jalur tanamMekanis (steking)
1.    Kelemahan

  1. Lambat selesai
  1. Kualitas perun dan merumpuk jelek karena tunggul dan kayu-kayu besar tidak dapat dirumpuk

2.   Kelebihan :

  1. Top soil tidak rusak
  2. Biaya lebih murah
1. Kelemahan :Top soil rusak karena ikut ter-gusur

Biaya lebih mahal

2.   Kelebihan :

Cepat selesai

Kualitas hasil perunan dan merumpuk baik dan bersih karena tunggul dan kayu ukuran besar dapat dirumpuk

4.   PENGELOLAAN TANAH (SOIL CULTIVATION)

Tindakan pengelolaan tanah yang harus dilakukan sebelum program penanaman kelapa sawit adalah membajak tanah (ploughing) dan menggaru tanah (harrowing). Alasan dilakukan pembajakan dan penggaruan tanah adalah :

ž        Mengurangi pemadatan tanah, karena pemakaian alat berat saat tumbang dan perun/merumpuk.

ž        Menghancurkan dan membongkar sisa-sisa akar yang masih tertinggal  dalam tanah.

Bajak tanah dilakukan 2 kali dimulai dari arah Utara-Selatan.  Setelah pekerjaan bajak selesai dilanjutkan dengan garu tanah sebanyak 2 kali dimulai dari arah Barat-Timur.   Alat yang dapat digunakan untuk bajak dan garu adalah farm tractor yang dilengkapi mesin bajak atau garu.

Pembukaan Lahan Bekas Areal Lalang

1.         Latar Belakang

Pembukaan lahan bekas lalang berbeda dengan areal hutan dan areal bekas kebun (karet, kelapa, kelapa sawit dan lain-lain).  Untuk membuat lahan siap ditanami, beberapa pekerjaan seperti : imas, tumbang, perun dan merumpuk tidak perlu dilakukan sehingga proses penyelesaiannya lebih sederhana dan cepat. Pekerjaan yang diperlukan didalam pembukaan lahan bekas lalang adalah membasmi (eradikasi) seluruh lalang yang tumbuh diatas lahan tersebut.

2.        Pembasmian Lalang Secara Mekanis

Pembasmian lalang secara mekanis dilakukan dengan cara dibajak (ploughing) dan digaru (harrowing).

Alat yang dipakai untuk keperluan membajak dan menggaru adalah terdiri dari farm tractor dengan dilengkapi alat bajak (disc plough) untuk membajak dan alat garu (disc harrow) untuk menggaru.

Jika kondisi  tumbuhan lalang tumbuh terlalu tinggi maka sebelum dilakukan pembajakan terlebih dahulu harus dilakukan pembabatan lalang, sehingga mempermudah dalam melakukan pembajakan.

Tahapan pembasmian lalang secara mekanis adalah sebagai berikut :

1.         Pembabatan lalang apabila tumbuhan lalangnya terlalu tinggi

2.        Pembajakan I .

Pembajakan I arahnya harus sama yaitu Utara–Selatan saja atau Barat–Timur saja.  Tanah yang dibajak sedemikian rupa sehingga semua tanah dapat dibalik rata dengan kedalaman  25 – 40 cm.

3.  Pembajakan II.

Pembajakan II  dilaksanakan 3 – 4 minggu setelah bajak I dengan arah memotong (90o) terhadap arah pembajakan I. Pembajakan II dilaksanakan sedemikian rupa sehingga bongkah-bongkah tanah besar akibat dari bajak I menjadi pecah semuanya dan siap untuk dilaksanakan pengolahan tanah selanjutnya. Dengan demikian permukaan tanah asli (top soil) semuanya sudah dibalik dan pecah-pecah,  sehingga Rhizoma lalang terbongkar, terjemur dan mengering.

4.  Penggaruan I.

Penggaruan I  dilakukan  3 – 4 minggu setelah pekerjaan pembajakan II dengan arah yang sama dengan arah pembajakan II (90o arah bajak I).  Penggaruan I dikerjakan sedemikian rupa sehingga bongkah-bongkah tanah menjadi remah.

5.        Penggaruan II.

Penggaruan II dikerjakan setelah 3 minggu pekerjaan penggaruan I, dengan arah  yang sama dengan pembajakan I (memotong 90o terhadap arah garuan I). Pekerjaan penggaruan II sama dengan pekerjaan penggaruan I, hanya hasilnya harus lebih baik dari garu I, dimana bongkah-bongkah tanah menjadi hancur dan lahan bebas dari kayu-kayu dan rumput.

Untuk mempercepat pengolahan tanah maka areal yang akan dibajak dan digaru dibagi-bagi menjadi beberapa sub blok, untuk masing-masing sub blok mempunyai rotasi pengolahan tanah dan pembagian traktor sendiri-sendiri.

Norma kerja untuk pekerjaan land clearing bekas areal lalang adalah sebagai berikut :

Ø         Membabat lalang yang tinggi                                           :             8,00 HK

Ø         Pembajakan I    :                                                                    2,86 HM (farm traktor)

Ø         Pembajakan II   :                                                                    2,50 HM (farm tractor)

Ø         Penggaruan I     :                                                                    2,89 HM (farm tractor)

Ø         Penggaruan  II   :                                                                    0,90 HM (farm tractor)

3.        Pembasmian Lalang Secara Kimiawi

Pembasmian lalang secara kimiawi dilakukan dengan memberikan herbisida yang dapat membunuh lalang. Dengan berkembangnya teknologi dibidang kimia, telah ditemukan berbagai jenis herbisida yang dapat membasmi lalang dengan berbagai formulasi dan merk dagang, misalnya Round up, Kleen up, Eagle, Dalapon dan lain-lain.

Eradikasi lalang dengan herbisida sebaiknya dipilih atau menggunakan jenis herbisida yang bersifat sistemik (dapat diserap dan ditranslokasikan ke seluruh jaringan tanaman). Aplikasinya dengan cara disemprotkan pada fase pertumbuhan lalang aktif.

Jenis atau merk herbisida yang akan dipakai harus dipilih herbisida yang memiliki daya berantas (efficacy) yang tinggi dan harga murah.  Beberapa contoh herbisida yang baik digunakan yaitu :

ž Round Up 480 AS :      mengandung bahan aktif isopropil amina glifosat 480 g/l

ž Eagle IPA 480 AS :      mengandung bahan aktif isopropil amina glifosat 480 g/l

ž Kleen Up 480 AS :      mengandung bahan aktif isopropil amina glifosat 480 g/l

ž Touch Down 480 AS :      mengandung bahan aktif trimetil sulfonium 480 g/l

Tahapan-tahapan Penyemprotan :

a. Babat Pandes

Pekerjaan babat pandes biasanya dikerjakan kalau kondisi lalangnya terlalu tua dan tingginya lebih dari 1,25 m.  Tujuannya agar daun lalang baru tumbuh aktif sehingga proses penyerapan glifosat dapat efektif.  Norma Kerja untuk babat pandes : 8 HK/Ha.

b. Semprot I  (Sheet Spraying)

Penyemprotan I sebaiknya dilakukan pada saat pertumbuhan daun maksimum yang ditandai dengan daun melengkung dan tingginya kira-kira  40–50 cm dari permukaan tanah, serta berumur sekitar 15 –21 hari setelah babat pandes.

Dosis bahan yang dipakai adalah 4 –5 lt/Ha herbisida glifosat dan dilarutkan dalam  700–800 lt air.  Tenaga kerja yang dipakai adalah 6 HK/ Ha.

Hal-hal perlu diperhatikan adalah :

Ø         Posisi nozzle maksimal setinggi permukaan lalang.

Ø         Penyemprotan dan pengadukan bahan harus merata.

Ø         Tekanan udara dalam pompa tidak berlebihan, ini biasanya ditandai dengan suara semburan larutan yang berdesir sewaktu larutan keluar dari dalam nozzle.

Ø         Jarak/lebar semburan antara satu penyeprot dengan penyemprot lainnya agar dijaga sehingga tidak ada lalang yang tertinggal.

Ø         Saat pengisian ulang alat semprot pada setiap titik diberi tanda atau bendera (flagging) untuk mencegah agar lalang tidak tersemprot dua kali.

Ø         Bila selesai penyemprotan turun hujan kurang dari 6 jam setelah penyemprotan, maka penyemprotan harus diulangi.

c.        Semprot II (Spot Spraying)

Penyemprotan II dilakukan  14–21 hari setelah penyemprotan I, dengan dosis 1–2 lt/Ha dan dilarutkan dalam air sebanyak 150–300 lt.  Kebutuhan tenaga kerja 1–2 HK/Ha.

d.  Wipping Lalang.

Pekerjaan wipping lalang dikerjakan 15 hari setelah pekerjaan spot spraying, tujuannya adalah melakukan penyapuan terhadap lalang yang masih tertinggal pada tempat-tempat tertentu. Tahapan pekerjaan wipping adalah sebagai berikut :

Ø Initial Wipping atau Wipping I :   0,30 lt/Ha Round up dengan 1,0 HK/Ha

Ø Wipping II       :                                                             0,25 lt/Ha Round up dengan 0,8 HK/Ha

Ø Wipping III     :                                                             0,20 lt/Ha Round up dengan 0,7 HK/Ha

Ø Wipping IV      :                                                             0,20 lt/Ha Round up dengan 0,7 HK/Ha

Ø Wipping  V       :                                                             0,15 lt/Ha Round up dengan 0,5 HK/Ha

Ø Normal Wipping                                                        :   0,10 lt/Ha Round up dengan 0,4 HK/Ha

Selisih waktu antara pekerjaan wipping I sampai wipping V adalah 15 hari sedangkan pekerjaan normal wipping dilakukan setiap bulan sampai lalang benar-benar tuntas atau sampai TBM III selesai.

Penggunaan dosis herbisida yang tidak sesuai akan menyebabkan tidak berhasilnya pemberantasan lalang.

Perhatian :     Jangan sekali-kali menggunakan dosis herbisida yang tinggi dengan tujuan agar lalang cepat mati.  Pemakaian herbisida dosis tinggi justru akan menggagalkan proses kematian lalang.  Sebabnya dosis herbisida tinggi dapat menyebabkan daun hangus sebelum herbisida dapat diserap dan ditranslokasi ke jaringan tanaman.

Sebaliknya pemakaian herbisida dosis rendah dengan beberapa rotasi penyemprotan akan memberikan hasil yang lebih efektif.

Selain itu, untuk mendapatkan daya berantas yang lebih efektif lagi,  herbisida sistemik dapat dicampur atau dikombinasikan dengan herbisida parakuat (misalnya Gramoxone) dan bahan perekat/perata (spreading agent).  Dengan kombisasi tersebut gulma sasaran tidak hanya lalang tetapi gulma lainnya.

PEMBUKAAN LAHAN BEKAS KEBUN KELAPA SAWIT (Replanting)

1.         Latar Belakang

Umur ekonomis tanaman kelapa sawit berkisar antara 25–30 tahun, setelah itu harus segera dilakukan peremajaan atau penanaman ulang .

Beberapa pertimbangan untuk melakukan peremajaan (penanaman ulang) adalah :

ž        Rata-rata produksi/ha tanaman yang akan diremajakan.  Produksi/ha merupakan pertimbangan kritikal dalam memutuskan melakukan peremajaan, dengan nilai kritis 13 ton/ha/tahun.

ž        Biaya per ha dan biaya per kg tandan buah segar (TBS) tanaman yang akan diremajakan.

ž        Pertimbangan harga jual produk CPO dan PKO.

ž        Ketersediaan modal untuk melakukan peremajaan.

ž        Letak/areal blok tanaman yang akan diremajakan.

2.        Teknis Peremajaan (Penanaman Ulang)

Peremajaan (penanaman ulang) harus dilakukan sesuai dengan tahapan yang benar agar pekerjaan lebih sistematis dan hemat biaya.  Adapun urutan pekerjaan peremajaan secara garis besarnya adalah :

(a)      Menyemprot gawangan dengan herbisida.

(b)      Memancang.

(c)       Membuat parit.

(d)      Membuat jaringan jalan

(e)      Membuat tapak kuda

(f)       Membuat lobang tanam

(g)      Membongkar tanaman lama

(h)      Menanam kacangan penutup tanah (LCC)

(i)       Menanam kelapa sawit

(j)       Perawatan tanaman

Pentingnya tahapan pekerjaan tersebut diatas didasarkan atas pertimbangan :

ž Selama  melakukan  pekerjaan  mulai dari tahap (a) sampai tahap (f) memerlukan waktu ± 3 bulan, sehingga tanaman tua masih dapat dipanen hasilnya.

ž Pekerjaan  memancang,  membuat  parit,  jaringan  jalan dan membuat tapak kuda serta membuat lubang tanam akan lebih cepat karena kondisi areal masih teduh (belum ditumbang).  Produktivitas karyawan akan meningkat karena karyawan tidak harus meloncati batang-batang sawit. Selain itu, dengan kondisi masih teduh maka pekerjaan memancang akan lebih cepat karena mengikuti barisan tanaman yang masih ada.

3.  Pelaksanaan Peremajaan (Replanting)

Sistem Kombinasi

Umumnya replanting menggunakan kombinasi sistem manual, kimia dan mekanis. Kombinasi sistem tersebut harus berdasarkan pertimbangan fisik areal, lingkungan, waktu penyelesaian dan jumlah tenaga kerja serta alat.

Cara manual meliputi : pengukuran kembali, memancang dan membuat lubang tanam. Sedangkan meracun tanaman, semprot gulma menggunakan sistem kimia. Pekerjaan rehabilitasi jalan, saluran air, membongkar tanaman dan merumpuk dilakukan secara manual dan mekanis.

Sistem Mekanis

Replanting dengan sistem mekanis menggunakan Excavator yang sudah dilengkapi dengan alat penjepit dan penghancur (a chipping bucket) untuk menumbangkan tanaman kelapa sawit.

Batang dan pelepah dihancurkan menjadi bagian-bagian kecil dengan tebal 5–10 cm. Tanaman yang sudah dihancurkan tersebut disebar dengan lebar 3–4 m disepanjang barisan tanaman.

Setelah itu dilakukan penanaman LCC dan pemancangan untuk titik tanam yang sudah ditentukan. Titik tanam yang baru ditempatkan diantara titik tanam lama.

Keuntungan replanting sistem mekanis adalah :

ž        Mengurangi jumlah pemakaian pupuk anorganik.

ž        Mengurangi biaya perawatan, paling tidak selama 2 tahun setelah tanam.

ž        Pertumbuhan tanaman lebih bagus.

ž        Tidak memerlukan biaya untuk pembuatan jalan baru, parit atau teras.

ž        Masa panen lebih awal.

Meracun Tanaman

Sebelum meracun tanaman, terlebih dahulu diberitahukan kepada aparat pemerintahan disekitar areal. Hal ini menghindari bahaya racun bagi manusia, ternak dan lingkungan lainnya. Dan pada jalan–jalan masuk ke areal yang diracun dipasang tanda atau pemberitahuan.

Beberapa cara peracunan tanaman kelapa sawit, antara lain :

a.        Cara Pertama

ž        Pada batang sawit kira–kira ketinggian 1 m dibuat lubang sedalam ± 20 cm.

ž        Lubang tersebut diisi dengan cairan racun paraquat murni (misalnya Gramoxone) sebanyak 110 ml per pohon.

ž        Lubang ditutup kembali dengan tanah liat atau bekas potongan batang.

ž        Dibiarkan selama 2 minggu. Selama periode tersebut pada umumnya daun sudah nampak kering.

b.        Cara Kedua.

ž        Pada ketinggian kira-kira 1 m dibuat 2 (dua) lubang pada batang kelapa sawit dengan menggunakan kampak (lebar mata kampak ± 5 cm) pada dua sisi yang berlawanan dan dalam lubang ± 10 cm.

ž   Masukkan ± 50 ml Gramoxone pada tiap lubang atau tiap tanaman 100 ml. Dalam waktu 10 hari buah akan gugur dan pelepah akan layu/mengering.

ž Untuk  memudahkan  pengawasan  dan  tidak  ada  tanaman  yang  tertinggal, tanaman yang telah diracun diberi tanda, misalnya dengan mengapur atau dicat.

Menyemprot Gulma

Dalam pelaksanaan replanting perlu dilakukan pengendalian gulma. Pada sistem peremajaan secara mekanis, pengendalian gulma tersebut dilakukan sekaligus pada waktu pengolahan tanah. Sedangkan pada sistem peremajaan secara kimia digunakan herbisida.

Gulma disemprot secara total/sheet dengan herbisida yang sesuai dengan jenis gulma di lapangan.  Biasanya kebun kelapa sawit tua didominasi oleh rumput–rumputan dan pakis. Herbisida yang dapat digunakan adalah Gramoxone untuk jenis rumputan atau kombinasi Round Up/Eagle dengan Starane/Ally 20WDG. Dosis herbisida sesuai dengan anjuran produsennya

Pelaksanaan penyemprotan sebaiknya dilakukan 3 kali yaitu :

ž        Semprot I : dilakukan sebelum penumbangan pohon.

ž        Semprot I : dilakukan setelah pembongkaran.

ž        Semprot III : dilakukan sebelum penanaman kacangan, apabila masih ada gulma yang tidak tersemprot atau regrowth.

Interval waktu antara pekerjaan semprot I, II dan III adalah satu bulan dengan catatan dalam kondisi normal.

4.        Pembongkaran Tanaman Tua

Dalam peremajaan (penanaman ulang) harus dilakukan pembongkaran tanaman tua dengan tujuan mengurangi intensitas serangan cendawan Ganoderma spp. Pada areal yang akan diremajakan, tahap pekerjaan yang perlu dilakukan adalah :

ž        Tahap I : bongkar  &  tumbang,  diupayakan   agar   robohnya tanaman sejajar dengan arah barisan tanaman baru.

ž        Tahap II : gusur batang ke gawangan yang  tidak  dibuat  jalan pikul dan letak batang setelah digusur minimal 2 m dari lubang tanam.

ž        Tahap III : menggali pangkal pohon dengan ukuran 2 m x 2 m dan kedalaman lubang 0,75 m. Pelepah yang dipotong dari batang pohon tua ditumpuk di dalam lubang tersebut, lalu dibakar. Tujuannya membasmi spora cendawan Ganoderma.

Pembongkaran tanaman tua dapat dilakukan secara manual atau mekanis dengan standar input :

ž  Manual            =   3 pohon per HK

ž  Excavator       =   0,15 ha per HM setara dengan 20 pohon per HM.

ž  Borongan       =   harga borongan maksimal sama dengan biaya manual

Teknik Penanaman
Penentuan Pola Tanaman
Pola tanam dapat monokultur ataupun tumpangsari. Tanaman penutup tanah (legume cover crop LCC) pada areal tanaman kelapa sawit sangat penting karena dapat memperbaiki sifat-sifat fisika, kimia dan biologi tanah, mencegah erosi, mempertahankan kelembaban tanah dan menekan pertumbuhan tanaman pengganggu (gulma). Penanaman tanaman kacang-kacangan sebaiknya dilaksanakan segera setelah persiapan lahan selesai.

Pembuatan Lubang Tanam
Lubang tanam dibuat beberapa hari sebelum tanam dengan ukuran 50×40 cm sedalam 40 cm. Sisa galian tanah atas (20 cm) dipisahkan dari tanah bawah. Jarak 9x9x9 m. Areal berbukit, dibuat teras melingkari bukit dan lubang berjarak 1,5 m dari sisi lereng.

Cara Penanaman
Penanaman pada awal musim hujan, setelah hujan turun dengan teratur. Sehari sebelum tanam, siram bibit pada polibag. Lepaskan plastik polybag hati-hati dan masukkan bibit ke dalam lubang. Taburkan Natural GLIO yang sudah dikembangbiakkan dalam pupuk kandang selama + 1 minggu di sekitar perakaran tanaman. Segera ditimbun dengan galian tanah atas. Siramkan POC NASA secara merata dengan dosis ± 5-10 ml/ liter air setiap pohon atau semprot (dosis 3-4 tutup/tangki). Hasil akan lebih bagus jika menggunakan SUPER NASA. Adapun cara penggunaan SUPER NASA adalah sebagai berikut: 1 botol SUPER NASA diencerkan dalam 2 liter (2000 ml) air dijadikan larutan induk. Kemudian setiap 1 liter air diberi 10 ml larutan induk tadi untuk penyiraman setiap pohon.

Pemeliharaan Tanaman
Penyulaman dan Penjarangan
Tanaman mati disulam dengan bibit berumur 10-14 bulan. Populasi 1 hektar + 135-145 pohon agar tidak ada persaingan sinar matahari.

Penyiangan
Tanah di sekitar pohon harus bersih dari gulma.

Pemupukan

Pemangkasan Daun
Terdapat tiga jenis pemangkasan yaitu:
a. Pemangkasan pasir
Membuang daun kering, buah pertama atau buah busuk waktu tanaman berumur 16-20 bulan.
b. Pemangkasan produksi
Memotong daun yang tumbuhnya saling menumpuk (songgo dua) untuk persiapan panen umur 20-28 bulan.
c. Pemangkasan pemeliharaan
Membuang daun-daun songgo dua secara rutin sehingga pada pokok tanaman hanya terdapat sejumlah 28-54 helai.

Kastrasi Bunga
Memotong bunga-bunga jantan dan betina yang tumbuh pada waktu tanaman berumur 12-20 bulan.

Penyerbukan Buatan
Untuk mengoptimalkan jumlah tandan yang berbuah, dibantu penyerbukan buatan oleh manusia atau serangga.
a. Penyerbukan oleh manusia
Dilakukan saat tanaman berumur 2-7 minggu pada bunga betina yang sedang represif (bunga betina siap untuk diserbuki oleh serbuk sari jantan). Ciri bunga represif adalah kepala putik terbuka, warna kepala putik kemerah-merahan dan berlendir.

Cara penyerbukan:
1. Bak seludang bunga.
2. Campurkan serbuk sari dengan talk murni ( 1:2 ). Serbuk sari diambil dari pohon yang baik dan biasanya sudah dipersiapkan di laboratorium, semprotkan serbuk sari pada kepala putik dengan menggunakan baby duster/puffer.
b. Penyerbukan oleh Serangga Penyerbuk Kelapa Sawit
Serangga penyerbuk Elaeidobius camerunicus tertarik pada bau bunga jantan. Serangga dilepas saat bunga betina sedang represif. Keunggulan cara ini adalah tandan buah lebih besar, bentuk buah lebih sempurna, produksi minyak lebih besar 15% dan produksi inti (minyak inti) meningkat sampai 30%.

Hama dan Penyakit

Hama Tungau
Penyebab: tungau merah (Oligonychus). Bagian diserang adalah daun. Gejala: daun menjadi mengkilap dan berwarna bronz. Pengendalian: Semprot Pestona atau Natural BVR.

b. Ulat Setora
Penyebab: Setora nitens. Bagian yang diserang adalah daun. Gejala: daun dimakan sehingga tersisa lidinya saja. Pengendalian: Penyemprotan dengan Pestona.

Penyakit
a. Root Blast
Penyebab: Rhizoctonia lamellifera dan Phythium Sp. Bagian diserang akar. Gejala: bibit di persemaian mati mendadak, tanaman dewasa layu dan mati, terjadi pembusukan akar. Pengendalian: pembuatan persemaian yang baik, pemberian air irigasi di musim kemarau, penggunaan bibit berumur lebih dari 11 bulan. Pencegahan dengan pengunaan Natural GLIO.

b. Garis Kuning
Penyebab: Fusarium oxysporum. Bagian diserang daun. Gejala: bulatan oval berwarna kuning pucat mengelilingi warna coklat pada daun, daun mengering. Pengendalian: inokulasi penyakit pada bibit dan tanaman muda. Pencegahan dengan pengunaan Natural GLIO semenjak awal.

c. Dry Basal Rot
Penyebab: Ceratocyctis paradoxa. Bagian diserang batang. Gejala: pelepah mudah patah, daun membusuk dan kering; daun muda mati dan kering. Pengendalian: adalah dengan menanam bibit yang telah diinokulasi penyakit.
Catatan : Jika pengendalian hama penyakit dengan menggunakan pestisida alami belum mengatasi dapat dipergunakan pestisida kimia yang dianjurkan. Agar penyemprotan pestisida kimia lebih merata dan tidak mudah hilang oleh air hujan tambahkan Perekat Perata AERO 810, dosis + 5 ml (1/2 tutup)/tangki. Penyemprotan herbisida (untuk gulma) agar lebih efektif dan efisien dapat di campur Perekat Perata AERO 810, dosis + 5 ml (1/2 tutup)/tangki .

Panen
Umur Panen
Mulai berbuah setelah 2,5 tahun dan masak 5,5 bulan setelah penyerbukan. Dapat dipanen jika tanaman telah berumur 31 bulan, sedikitnya 60% buah telah matang panen, dari 5 pohon terdapat 1 tandan buah matang panen. Ciri tandan matang panen adalah sedikitnya ada 5 buah yang lepas/jatuh dari tandan yang beratnya kurang dari 10 kg atau sedikitnya ada 10 buah yang lepas dari tandan yang beratnya 10 kg atau lebih.

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.